Cowok Suka Masak Dipuji, Cewek Suka Masak Kok Disepelekan?

Memasak adalah aktivitas paling ramai di muka bumi, siapa pun berhak melakukannya. Tak peduli umur, profesi, ataupun hobinya. Sebaliknya, jika setiap orang berhak melakukan aktivitas yang satu ini, maka orang-orang juga berhak tak melakukannya, tak mengerti seluk-beluknya, bahkan mengabaikannya.

Seorang kawan, sebut saja namanya Jumaynah, baru-baru ini datang ke warung kopi melewati derasnya hujan; alih-alih langsung memesan, ia langsung duduk membuka laptop – tepatnya membuka sekian list pertanyaan yang ada di laptopnya. Dengan memakai baju batik, sepintas, ia seperti orang yang pulang dari kondangan. Ini pertama kali ia ngopi memakai baju batik selama hidupnya.

Beberapa hari sebelum itu, kami memang merencanakan nongkrong ceria. Seorang teman lain bernama Ahmad, melontarkan pertanyaan kepada Jumaynah, “Memangnya ada obrolan yang penting?” Jumaynah terdiam sejenak, lalu menjawab, “Aku ada yang pengen ditanyain, semacam riset kecil-kecilan soal masak.”

Saat masih tinggal di Palembang, saya pernah mendengar ucapan seorang kawan tentang masak. Menurutnya, hanya cewek saja yang cocok memasak. Sebab, kata dia, masak merupakan tindakan yang paling pas untuk cewek, lebih aneh lagi, menurutnya, masak itu jadi kewajiban cewek. “Cewek itu wajib bisa masak, karena masak itu udah kodratnya cewek.” katanya.

Tentu saja, jika memakai ukuran mayoritas, memasak dianggap aktivitas privat dari seorang ibu rumah tangga. Dalam cara pandang mainstream kita, masak menjadi tuntutan yang tidak bisa diabaikan oleh perempuan . Itu semua secara tak langsung, melanggengkan sebuah cara pandang yang sebenarnya tidak adil.

Seringkali, perempuan di keluarga menjadi ‘objek penderita’. Padahal, ajaran di agama apa pun sangat menghormati perempuan. Perempuan tidak jarang mendapatkan porsi berlebihan dalam urusan rumah tangga. Perempuan diposisikan sebagai makhluk yang harus siap menerima beban ganda.

Dalam perjalanannya, masak dianggap hal yang sudah wajar dari sononya, mulai dari zaman empu babe. Karena sudah kebiasaan sejak dulu, menjadi hal yang wajar bukan, kalau masak harus tetap dilakukan oleh cewek?

Lantas, kenapa kalau aktivitas masak dilakukan oleh cowok terkesan berbeda? Cowok yang bisa masak, dianggap punya kelebihan tersndiri. Padahal, masak itu kan kewajiban kalau tidak mampu beli makanan yang sudah jadi. Terus, kenapa masak seolah-olah dianggap kodrat cewek lah, keharusan cewek lah, tuntutan bagi cewek lah, siapa yang sebenarnya menyepakati hal itu?

“…sebagai upaya untuk mencari yang benar dan baik” itulah yang membuat Jumaynah melontarkan pertanyaan “memangnya masak itu hanya wajib bagi cewek?” kepada kami yang ngopi waktu itu. Dan, saya rasa bukan hanya si Jumaynah, ada banyak orang di luar sana yang pernah bertanya semacam itu.

Masak sering kali dianggap sebagai aktivitas yang ‘cewek banget’. Intensitas kegiatan masak yang diampu oleh perempuan, membuat ia seolah-olah menjadi lambang ilusi keperempuanan. Ada stigma bahwa perempuan harus mampu memasak dan membahagiakan pasangannya lewat masakan, bahkan harus selalu bisa melakukannya sepadat apapun kesibukannya.

Itu seakan-akan menjadi sesuatu yang “…tidak boleh diragukan apalagi dibantah”. Mereka yang mengingkari dan menolaknya, bakal dicurigai keperempuanannya.

Tahun 2011 silam, pertelevisian kita membuat proyek pencarian bakat memasak yang diadopsi dari acara Inggris, Master Chef. Acara ini pertama kali dimulai pada 1 Mei 2011. Di acara ini, memasak menjadi aktivitas yang sangat dieksploitasi sampai ke akar-akarnya. Acara ini pun pernah memenangkan penghargaan untuk kategori “pencarian bakat terbaik.”

Jika masak sudah menjadi kategori bakat, lantas kenapa masak harus terus diberikan pada perempuan? Bukannya masak sudah harus diserahkan pada yang berbakat? Kalau ada perempuan tidak punya bakat memasak, menjadi wajar kalau perempuan itu nantinya menolak untuk memasak. Dan tidak ada salahnya toh kalau laki-laki yang mengambil peran tersebut?

Jumaynah adalah perempuan yang bekerja di salah satu LSM yang bergerak dalam isu-isu keperempuanan. Letak LSM tempatnya bekerja berada di Selatan Jogja, tepatnya di Kulon Progo. Suatu waktu, Jumaynah pernah mewawancarai ibu-ibu yang ada di sana.

Dalam wawancaranya, Jumaynah menanyakan rutinitas ibu-ibu yang juga bekerja untuk memenuhi kebutuhan keluarganya. Singkatnya seperti ini isi wawancaranya waktu itu:

“Ibu-ibu, biasanya kalau sebelum kerja, aktivitas ibu-ibu ngapain aja?” Tanya Jumaynah.

“Biasanya sih kita sudah bangun jam tiga pagi, langsung masak untuk suami dan anak, tidak lupa menyiapkan segala kebutuhan anak-anak, mbak.” Jawab ibu-ibunya.

“Terus bapak biasanya ngapain ya bu, pas ibu-ibu bangun jam tiga, terus masak dan menyiapkan segala sesuatu setiap harinya?” Tanya Jumaynah lagi.

“Bapak sih biasanya masih tidur mbak. Bangunnya jam enam lebih, gak jarang juga kalau anak-anak udah mau berangkat sekolah baru bangun.”

“Kira-kira, itu adil gak ya bu? Emang bapak gak ada niatan ngebantu ibu-ibu?” Jumaynah coba menggali jawaban lebih jauh dari ibu-ibu yang diwawancarinya.

“Ya gimana lagi ya mbak. Masak kan udah jadi kewajiban kita sebagai perempuan ya.”

Dari isi wawancara tersebut, masih tampak jelas kalau aktivitas masak tidak bisa diganggu-gugat sebagai kewajiban perempuan. Padahal, dengan jarak waktu bangun yang lebih awal dibanding suaminya, ibu-ibu yang diwawancarai Jumaynah mendapatkan beban yang berlebih. Waktu tidur yang lebih sedikit ketimbang suaminya, ibu-ibu tersebut juga mendapat tambahan pekerjaan, karena harus menyiapkan segala sesuatu untuk urusan rumah tangga.

Selain adzab kubur, aktivitas memasak di dapur, menjadi garapan yang tak akan pernah basi bagi pertelevisian kita, dan yang diobjektifikasi selalu pihak perempuan. Dengan begitu, di tengah kondisi neo-kapitalisme seperti sekarang, pertelevisian kita juga ikut mengkonstruk peran perempuan hari ini.

Realitas yang terjadi, jika ada perempuan ingin berkarir, maka ia harus siap dengan konsekuensi yang harus ditanggungnya—harus siap masak dan mendapat beban tambahan. Padahal, ajaran di agama apapun mengajarkan kalau perempuan adalah makhluk yang terhormat. Tidak jarang harus diistimewakan, karena ada beberapa keistimewaan yang hanya dimiliki oleh perempuan itu sendiri.

Ini menjadi himbauan bagi para lelaki yang peduli terhadap keadilan perempuan, dan juga teruntuk lelaki yang sering meremehkan perempuan, masak bukanlah hal yang sepele. Tidak perlu lagi berlebihan memuji lelaki yang bisa masak, dan tak perlu lagi meremehkan perempuan yang tidak bisa masak, apalagi masih mengaanggap memasak itu kewajibannya kaum hawa.

Master chef sudah menyebutkan, kalau masak itu adalah bakat! Mari kita hancurkan kesetaraan, dan hidup untuk patriarki! Mungkin begitulah kondisi di negeri yang akan terus melangggengkan ketidakadilan.

Recommended Articles

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *