Lewis Capaldi dan Lambang Harapan

Untuk ukuran penyuka musik, saya masuk dalam kategori yang menganggap musik adalah hal yang menenangkan. Meskipun, faktanya saya sendiri tidak bisa bermain alat musik seperti gitar, dan hanya mentok bisa memainkan pianika serta recorder secara pas-pasan. Sebenarnya, saya hanya mendengarkan musik dalam periode tertentu, dan lebih sering dalam durasi yang terbilang sebentar. Kegiatan saya ketika mendengarkan musik juga terbilang acak dan tak menentu, tergantung dari suasana hati dan waktu luang yang saya miliki.

Banyak yang bilang, bahwa musik adalah soal seni dan kreativitas, intuisi, dan pemaknaan yang mendalam. Bagi saya, musik itu seperti teman yang tidak pernah ingkar janji. Ia menjelma menjadi banyak wujud dan memberi rasa nyaman yang sulit untuk saya jelaskan. Selain itu, musik ibarat jalan dan tempat singgah yang mengantarkan saya pada rasa aman. Aman dari segala hingar-bingar kehidupan yang terkadang menjengkelkan. Lebih puitisnya lagi, musik selayaknya tarian yang mengajak saya untuk melupakan sejenak segala beban yang ada.
Tahun lalu, semenjak saya punya gawai yang sedikit lebih bagus, ada beberapa lagu yang sangat mengena di saya. Lagu-lagu ini adalah lagu dari Alan Walker. Mulai dari On My Way, Lily, dan Lost Control. Ketiga lagu itu sering saya putar berulang-ulang di kala saya suntuk dan merasa penat. Ketiga lagu itu pula yang menemani sekaligus menyelamatkan saya, dari kebosanan pembekalan KKN yang terkesan monoton.

Sampai-sampai, saya pun memengaruhi teman yang duduk di sebelah saya untuk mendengarkan lagu-lagu tersebut, ketimbang mendengarkan pemateri pembekalan. Untuk hal yang satu itu saya harap tidak usah ditiru. Tetapi jika mau diitru tidak ada salahnya juga.

Kesenangan saya mendengarkan lagu-lagu Alan Walker, akhirnya terhenti setelah salah seorang teman merekomendasikan lagu lain. Baik lagu dan penyanyinya, awalnya belum saya ketahui sama sekali. Dan uniknya, saya langsung jatuh hati kepada beberapa lagu ciptaan penyanyi tersebut, dan memilih berpaling dari Alan Waklker (AW).

Penyanyi tersebut adalah Lewis Capaldi, seorang penyanyi yang berasal dari Skotlandia. Dengan wajah chubby dan terkesan sedih yang dimilikinya, ia mampu menyihir dan menghipnotis saya ketika mendengarkan lagu-lagunya.

Beberapa hari yang lalu, saya sempat berbalas komentar dengan salah satu penulis buku di Twitter. Perbincangan kami sebenarnya juga masih dalam seputar lagu. Saya menanggapi twit beliau karena memilih lagu On My Way-nya AW sebagai lagu penyemangat setelah mengalami kegagalan. Sontak saja, setelah membaca twit tersebut, kenangan saya langsung terlempar ke tahun-tahun lalu. Masa di mana saya sedang senang-senangnya mendengarkan lagu AW. Terlebih karena saya memang senang main PUBG Mobile pada waktu itu.

Saya pun menanyakan kepada penulis buku tadi, “Apakah dirinya juga senang main PUBG Mobile?” Jawabannya pun tidak kalah mengejutkan, sebab beliau tidak bisa main PUBG Mobile, dan tampaknya juga belum pernah memainkan game tersebut. Tambahannya, beliau mengatakan kalau kesenangannya pada AW lantaran AW mampu menciptakan dunia sendiri beserta kodifikasinya, serta nuansa lagu AW yang anehnya terkesan dark tetapi penuh harapan.

Berangkat dari hal itu, saya sendiri sepakat dengan beliau, dan menganggap bahwa AW adalah penyanyi yang merepresentasikan modernitas. Modernitas yang disertai dengan unsur digital serta teknologinya. Hingga, menjadi layak dan tepat kalau lagu On My Way-nya AW dipilih untuk menemani game PUBG Mobile. Bagi saya, AW adalah digital dan teknologi itu sendiri. Ia seperti menyatu dengan hal tersebut, dan lagu-lagunya seperti kode-kode digital atau barcode yang jamak kita temui sekarang ini.

Lain AW lain lagi Lewis Capaldi. Kata orang, Lewis adalah kembaran Ed Sheeran. Tentu saja penilaian itu tidak bisa diterima sepenuhnya, sebab banyak sisi yang berbeda dari keduanya. Secara unsur dasar lagu-lagunya saja, kedua orang ini sangat berbeda. Lagu-lagu Lewis lebih banyak didominasi oleh unsur piano, sedangkan Sheeran, lebih banyak membuat lagu dengan base gitar.

Jika diartikan sebagai orang yang memeluk suatu agama, Lewis adalah peminta dan pendoa ulung bagi saya. Hal ini terbukti dari tiga lagunya yang menjadi favorit saya. Mulai dari Someone You Loved, Bruises, dan Forever. Ketiga lagu ini, sangat mewakili dan menunjukkan ciri khas seorang Lewis. Suaranya ketika menyanyikan ketiga lagu ini, ibarat tidak lagi sekadar menyayat hati para pendengar, melainkan juga membedah baik hati serta pikiran. Mari kita kupas sedikit ketiga lagu ini dan kesan saya terhadapnya.

Someone You Loved

Kenyataannya, lagu ini tidaklah ditujukan khusus kepada mantan. Iya mantan, seseorang yang pernah singgah itu. Tetapi seperti dialog kepada sang Pencipta untuk menujukkan seseorang yang benar-benar tepat untuk kita miliki. Lagu ini mirip sekali seperti doa yang dipanjatkan pada saat kebingungan yang luar biasa, dan dalam kondisi yang sudah benar-benar parah. Kesakitan, kehilangan, serta kenangan yang dimasukkan Lewis dalam lagu ini, ajaibnya malah seperti obat manjur untuk banyak penyakit.

Tidak hanya itu saja, lagu ini seperti mengajarkan saya untuk terbiasa dalam kondisi apa pun. Saya seperti diajari bagaimana cara terbaik dan yang paling ideal ketika beradaptasi, baik itu ketika dicintai atau pun pada saat mencintai. Bisa itu mencitai seseorang atau sesuatu. Lagu ini juga seperti pesan tersirat bagaimana menyikapi suatu kewajaran. Terkadang, kita memang tidak perlu mengatakan dan cukup mengerti saja. Dan yang terpenting, melarikan diri itu tidak selamanya akan berkonotasi sebagai pengecut, melainkan adalah bukti kalau kita menjadi pemenang.

Bruises

Dari judulnya, mungkin terkesan seperti lagu yang tepat untuk merayakan kegalauan. Akan tetapi, justru lagu ini membawa pesan kuat yang sulit untuk saya tolak, bahwa kehilangan itu bukanlah akhir dari segalanya. Sebagaimana dunia yang tercipta dari keberpasangan, lagu ini mengajarkan saya untuk ikhlas dan harus memahami bahwa kehilangan adalah bukti kita pernah memiliki. Lagu ini, kalau boleh saya artikan, nuansa sufistiknya terasa begitu kental. Dari apa yang pernah kita miliki selama ini, sesungguhnya tidak ada yang sepenuhnya milik kita.

Unsur air serta gelombang yang dimasukkan Lewis dalam lagu ini, membuktikan kalau Lewis adalah orang yang dekat dengan persoalan lingkungan. Ketika kita merasa bahwa air terasa lebih dingin, mungkin kebanyakan dari kita menganggap karena pengaruh suhu. Tetapi justru, air di sini adalah perumpamaan kita yang selalu abai dan merasa tidak pernah ada masalah. Pada akirnya, saya menganggap lagu ini tidak hanya soal ketersesatan semata, namun juga soal kebangkitan yang tidak boleh ditunda dan harus disegerakan.

Forever

Dibuka dengan lirik sebuah ‘kelengahan’, menjadikan lagu ini semacam mantra pengingat. Pengingat akan hal-hal yang telah lalu, dan hal yang akan datang di kemudian hari. Banyak harapan yang dimunculkan dalam lagu ini, termasuk harapan yang amat sepele, agar kita bisa berpenampilan sedikit lebih baik dari sekarang. Lagu ini juga seperti mengutuk adanya sebuah penyesalan, dan menyarakan bahwa seharusnya kita sadar, bahwa kita tak bisa kembali lagi, kembali ke momen-momen yang menurut kita seharusnya bisa lebih baik.

Semuanya akan hilang, dan semuanya tidak akan bertahan selamanya. Lagu ini juga seperti mengingatkan untuk tidak terlalu banyak mengumbar janji, apalagi janji yang dibumbui dengan banyak perkiraan. Akan tetapi, bukan berarti kita membiasakan bahwa janji adalah sebuah kebohongan. Lebih jelasnya, lagu ini seperti mendorong kita agar tidak patah semangat, dan selalu ingin terus berusaha. Berusaha mewujudkan dan membuktikan kalau manusia itu akan seharusnya bisa lebih dihargai dari prosesnya, bukan hasil apa yang akan ia capai kelak.

Berhubung terbatasnya kemampuan saya untuk membedah lagu, saya rasa saya cukupkan dulu sampai di sini. Untuk lebih jelasnya, dan semoga merasakan pengalaman yang saya dapat ketika mendengarkan lagu Lewis, saya sarankan mendengar semua lagunya. Saya berharap, setidaknya saya bisa menjadi seperti bintang yang Lewis maksud dalam beberapa lagunya, dan semoga saya bisa membuat orang di sekitar saya bahagia serta bangkit dari keterpurukan. Terima kasih kepada Lewis Capaldi, orang pertama yang lagunya saya bedah dan narasikan dalam tulisan ini.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *